Translate to : English French German Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

Antara Pahlawan dan Pecundang

Jumat, 23 Juli 2010

Kadangkala dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang terjadi disekitar kita, kadang itu menyenangkan atau sebaliknya.
Inilah sebuah ilustrasi yang coba saya kemukakan:
" Pada sebuah unit kerja yang terdiri dari 10 karyawan, dimana diantara mereka ada salah seorang pemimpin informalnya. Kenapa dia bisa diangkat sebagai pemimpin informal, padahal pemimpin resminya ada ? Ada beberapa faktor yang mendasarinya antara lain senioritas, kepiawaiannya bertutur kata, kearifannya, keberaniannya dan dipercaya oleh teman-temannya. Nah pemimpin informal ini yang sering ditunjuk sebagai juru bicara jika menemui masalah kepada atasannya. Namun kadangkala cara yang dilakukannya kurang elegan, sehingga menimbulkan hal negatif di mata orang lain, khususnya atasannya."

Di mata atasannya atau di luar dari teman-temannya, dia dianggap orang yang vokal, suka protes, ambisi dan tidak pernah puas akan keadaan. Bisa saja atasannya salah mengartikan atau salah persepsi, dianggap dialah sang provokator ( mungkin saja bisa terjadi untuk kasus-kasus tertentu).
Sementara di mata teman-temannya, dia dianggap pahlawan karena berani memperjuangkan aspirasi dan suara hati karyawan.


Sekarang bagaimana seharusnya dia memposisikan diri ? Dengan dianggap pecundang oleh atasannya maka sulit bagi dia untuk menapak karir yang lebih baik. Walaupun di mata teman-temannya dialah sang pahlawan sejati.
Saya mencoba memberikan saran agar sang pahlawan ini tidak menjadi pecundang bahkan akan dihargai oleh atasannya yaitu:

  • mulailah menyaring apa saja yang menjadi harapan dari teman-temannya untuk di tanyakan kepada atasannya/management. Jika tidak terlalu urgent atau lebih kearah kepentingan pribadi teman-temannya, sarankan agar mereka mencoba maju sendiri untuk berbicara kepada atasannya.
  • menata ulang tutur kata, tingkah laku, gesture , eye contact dan tehnik negosiasi, agar tidak dianggap sebagai provokator oleh atasannya.
  • belajar membaca situasi, apakah tepat jika saran-saran/complain/unek-unek ini disampaikan ke atasannya. Cari waktu yang tepat dan mood atasannya sedang baik.
  • yang terpenting harus mempunyai sifat menerima jika semua yang disampaikan hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Saya teringat pengalaman saya sendiri beberapa tahun silam. Saat itu baru dikeluarkan kartu kredit Platinum. Ketentuan awal untuk karyawan internal, harus minimal esselon 3 atau kepala cabang. Para wakil kepala cabang yang esselon 4 bertanya kenapa mereka tidak di buatkan kartu platinum ? Bagaimana harus menjual kartu platinum jika dia saja tidak memiliki. Bagaimana pula saat menjamu nasabah dan ketika membayar makan ( misalnya) hanya mengeluarkan kartu gold saja ?

Saat itu saya berbicara ke management tentang keluhan para wakil kepala cabang. Dengan berbagai pertimbangan maka pejabat esselon 4 tersebut akhirnya di setujui untuk memiliki kartu platinum. Kesempatan itu saya pakai juga untuk bertanya bagaimana dengan karyawan kantor pusat yang esselon 4, apakah bisa juga mendapat kartu platinum ? Karena jenjang esselon sama, maka akhirnya disepakati semua karyawan esselon 4 bisa memiliki kartu platinum.

Dari kisah tersebut, saya memang mewakili teman-teman esselon 4 untuk menyuarakan ke manajemen dan ketika disetujui maka saya mungkin dianggap 'pahlawan" oleh sebagian teman. Di mata manajemen saya tidak dianggap pecundang karena apa yang saya sampaikan masih masuk akal dan bisa diterima.

Dengan contoh sederhana tersebut, mungkin bisa diambil hikmahnya sehingga julukan pecundang bisa menjadi pahlawan.

Ayo majulah para pahlawan-pahlawan sejati, karena tanpa kalian sebuah organisasi menjadi kurang dinamis.

1 komentar:

Talip's Blog mengatakan...

good

Posting Komentar

Menggugah gagasan, merefleksikan pemikiran dan menerobos relung harapan