Minggu, 27 November 2016
Buku Pertama
Buku Pertama
Buku Ke-2
Buku ke-4
Buku ke 2
Buku ke 3
Minggu, 27 November 2016
Diposting oleh
Talip's Blog
Selasa, 25 Oktober 2016
Diposting oleh
Talip's Blog
Hidup itu Seperti Permainan Biola.
Anda pasti pernah melihat ban mobil kan. Saat mobil berjalan ban tersebut berputar. Nah kehidupan itu juga seperti ban, ada kalanya di atas ada kalanya di bawah. Saat berada di posisi atas, maka semuanya akan terlihat enak dan menyenangkan, begitu juga sebaliknya. Tapi kehidupan itu bisa juga dikaitkan dengan permainan biola. Anda pernah mendengar permainan biola ? Lembut, tenang dan enak di dengar. Itu diibaratkan dengan kehidupan yang tenang dan damai. Sekarang coba bayangkan jika pemain biola tersebut menggesetk alat biolanya dengan tergesa-gesa, kencang dan tak beraturan. Tidak enak di dengar kan. Itulah perumpamaan kehidupan yang berantakan, kacau dan tidak harmonis. Yang mana yang mau Anda pilih dan jalani ? Semua orang pasti ingin memilih yang pertama. Pertanyaannya apakah bisa ? Teori lebih mudah dari prakteknya. Banyak orang yang pandai berkata-kata, berkotbah tapi apakah ia sendiri menjalankan apa yang sudah dikatakannya ? Silakan Anda renungkan sendiri. Silakan Anda cek ke orang-orang sekeliling Anda.
Kehidupan yang indah seperti permainan biola yang merdu itu bisa dicapai asal kita tahu caranya dan mau menjalankannya. Hal yang utama adalah dari diri Anda sendiri. Kenapa memulai dari diri sendiri ? Karena diri sendiri merupakan faktor yang paling utama dalam setiap hal yang dilakukan.
Coba Anda tengok kebelakang sejenak. Sejak kecil kita semua sudah mendapat bimbingan dan motivasi dari orang-orang terdekat. Saat masih belum sekolah, maka peran orangtua, kakek-nenek dan kakak cukup dominan. Mereka selalu memberi nasehat apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh, jika salah akan diberi tahu dan diarahkan melakukan hal yang benar. Setelah masuk sekolah, maka peran guru sangat penting untuk membuat Anda menjadi orang yang pintar, berbudi pekerti yang baik dan hal-hal positif lainnya. Beranjak di pekerjaan, pasti Anda juga mendapat pengarahan dari atasan, trainer dan mungkin para motivator. Jadi sudah lengkaplah bekal Anda sejak kecil sampai dewasa. Nah dengan bekal yang berlimpah ruah itu, apakah Anda bisa menjalaninya dengan baik sehingga Anda menjadi seseorang dengan kesuksesan yang luar biasa ?
Sebenarnya peran mereka semua sangat luar biasa, tapi masalahnya kadangkala kita tidak mau menjalankannya sehingga kehidupan kita biasa-biasa saja.
Inilah yang disebut banyak orang yang suka berada di zona nyamannya saja. Dia tidak mau melangkah lebih maju lagi, tidak mau menerima tantangan yang lebih berat lagi. Prinsipnya adalah saya dibayar untuk melakukan hal ini. Jika ingin melakukan lebih ya tambah lagi bayarannya.
Orang-orang seperti itulah yang akhirnya kehidupannya tidak bahagia. Mereka berkarya berdasarkan hitung-hitungan. Bekerja merupakan rutinitas yang membosankan karena tidak sesuai dengan passionnya. Ya kehidupan mereka itu lama kelamaan akan semakin terpuruk, bagaikan permainan biola yang asal-asalan dan tidak enak didengar.
Jadi bagaimana sebaiknya tidakan Anda ?
1. Setiap pagi saat bangun tidur, ucapkan syukur kepadaNya karena masih diberi 1 hari lagi yang indah untuk berkarya.
2. Berpikir positif, berkata positif, bertindak positif dan yakinlah akan menghasilkan hasil positif.
3. Lakukan semua pekerjaan dengan semaksimal mungkin.
4. Hindarkan keluh kesah, mudah putus asa dan rasa malas. Itu semua adalah penghalang-penghalang yang harus Anda kalahkan.
5. Berani menerima tantangan dan melakukannya dengan sungguh untuk meraih pencapaian yang lebih baik lagi.
6. Jadilah orang yang rendah hati, mau menerima saran dari orang lain dan mau membantu orang lain dengan tulus.
7. Berprinsip tabur tuai. Menabur kebaikan akan menuai kebaikan.
DISCLAIMER:
Pikirkan kelestarian lingkungan sebelum mencetak email ini.
Perhatian: Email ini (termasuk lampirannya) hanya ditujukan kepada penerima email yang tercantum di atas dan tidak boleh disalahgunakan oleh siapa pun. Jika Anda bukan penerima email yang dimaksud, Anda tidak diperkenankan mem-forward, mendistribusikan, menyebarkan, meminjamkan, mencetak, menggandakan, atau memanfaatkan email ini.
Kamis, 18 Agustus 2016
Diposting oleh
Talip's Blog
Pantang Jadi Runner Up
Dalam setiap pertandingan apapun, hanya ada 1 juara saja. Juara 2 dan seterusnya tidak akan diingat. Coba Anda lihat negara yang juara piala dunia sepakbola akan disanjung-sanjung dan diberitakan kehebatannya. Bagaimana yang kalah di final atau runner up ? Mereka tertunduk lesu dan merasa gagal. Begitu juga dengan sekolah, hanya juara 1 yang disebut.
Saya Odetta Jeffin Wijaya, seorang anak ke 2 dari 2 bersaudara. Sejak kecil saya selalu ingin memiliki prestasi yang baik. Hal yang menjadi motivasiku adalah saat saya di kelas 1 SD, dimana papaku bertanya “ Kamu ingin kaya dan sukses “.
“Pasti dong pa”
“ Jika kamu kaya dan sukses itu semua untuk siapa”
“ Ya tentu saja untuk saya sendiri pa”
“Nah kalau begitu, kamu harus lakukan apa untuk meraihnya ?”
“ Belajar dan bekerja keras”
“ Baiklah Odetta, itu kamu sudah tahu dan ayo buktikan”
Berdasarkan diskusi dengan papa maka saya ingin berrbagi pengalaman yang bisa menjadi motivasi untuk Anda semua. Sejak kelas 1 sampai 4, di semester 1, saya selalu menjadi juara 1, tapi di semester 2 selalu menjadi juara ke 2. Padahal yang diperhitungkan sebagai yang hebat adalah saat kenaikan kelas alias semester 2. Selama 4 tahun saya selalu menjadi runner up. Rasa penasaran membuat saya bertekad untuk menjadi yang terbaik. Masa sih saya selalu kalah diputaran akhir. Langkah awal adalah menulis di kertas dan ditempel dengan kata-kata motivasi “ Pantang Menjadi Runner Up”. Slogan hanya akan tetap menjadi slogan jika tidak dilakukan. Saya ingin membuktikan seorang anak SD yang tidak pernah ikut kelas motivasi bisa memotivasi diri sendiri.
Saya bekerja dengan lebih giat. Jika ada ulangan, jam 4 pagi sudah bangun, belajar lagi. Perjuangannya tidak sia-sia. Saat kelas 5, saya bisa menjadi juara 1. Mempertahankan itu lebih berat dari meraihnya. Itu benar sekali. Pesaing-pesaing berusaha mengalahkan saya. Tapi tantangan itu justru membuat saya semakin semangat untuk belajar. Hasilnya luar biasa, kelas 6,7,8,9 selalu menjadi juara 1. Semua pesaing saya anggap teman yang membantu saya berlari lebih cepat. Tidak ada rasa ingin menang dengan cara tidak sportif, karena papa mama selalu mengajarkan integritas harus dipegang dengan baik.
Bahkan puncaknya saat kelas 9. Saya menjadi juara umum dan nilai ujian tertinggi untuk 2 mata pelajaran dari 4 yang di ujiankan nasional. Untuk meraihnya ada harga mahal yang harus saya bayar. Saya mengurangi kebiasaan yang tidak penting seperti nonton TV, jalan-jalan, bermain internet. Saya ganti dengan belajar dan bekerja keras untuk mewujudkan impian saya. Nah istilah pantang jadi runner up benar-benar sudah melekat kuat dalam diri saya. Saya sudah membuktikan, ya Odetta Jeffin seorang anak muda saja bisa, Anda juga pasti bisa dong. Anda juga bisa menjadi juara untuk hal-hal yang Anda kerjakan. Makanya kita tidak boleh malu untuk belajar motivasi dari siapa saja, walau ia bukan motivator . Yang penting pengalaman telah membuktikannya.
Selain itu untuk menunjang keinginan saya menjadi murid ang terbaik maka saya memutuskan untuk pembelajar sejati. Saat usia 13 tahun saya mengikuti EQM Youth nya Anthony Dio Martin, bahkan 1 tahun kemudian menjadi fasilitator untuk angkatan di bawah. Saat usia 14 tahun saya mengikuti 2 hari kelas Public Speaking nya Haryanto Kandani. Terakhir saya mengikuti Life Camp nya Merry Riana. Jadi jika Anda ingin sukses, siapkan diri Anda sedini mungkin karena tidak ada kesuksesan yang datang dengan instan. Yes... kita semua dilahirkan untuk menjadi pemenang.
Kesimpulan dan poin pembelajaran.
1. Setiap orang harus memiliki impian, tapi impian yang masuk akal. Harus kerja keras untuk mewujudkannya. Jika tidak, maka impian hanyalah sebuah kata tanda makna
2. Jangan pernah menyerah, terus lakukan dan suatu saat maka hasil yang baik akan menjadi milik Anda.
3. Jangan pernah berhenti belajar, karena jika Anda berhenti belajar maka itu berarti Anda sudah “mati”
4. Miliki sebuah slogan yang bisa memotivasi diri Anda.
Biodata
Odetta Jeffin Wijaya, lahir 2 Desember 2000
Sekolah di Kanaan Global School
Hobby : Membaca, menulis, bermain biola
Instagram dan FB : Odetta_jeffin
Blog : odettajeffin.blogspot.com
DISCLAIMER:
Pikirkan kelestarian lingkungan sebelum mencetak email ini.
Perhatian: Email ini (termasuk lampirannya) hanya ditujukan kepada penerima email yang tercantum di atas dan tidak boleh disalahgunakan oleh siapa pun. Jika Anda bukan penerima email yang dimaksud, Anda tidak diperkenankan mem-forward, mendistribusikan, menyebarkan, meminjamkan, mencetak, menggandakan, atau memanfaatkan email ini.
Senin, 08 Agustus 2016
Diposting oleh
Talip's Blog
Life is a journey.
Setiap insan di dunia ini pasti menginginkan kehidupan yang sempurna, kehidupan yang bahagia, kehidupan yang memberdayakan dan kehidupan yang penuh arti.
Namun semua impian tentang arti kesempurnaan kadangkala menjadi bias seiring dengan banyaknya permasalahan, rintangan, tantangan dan hambatan yang menghampar diperjalanan kehidupan. Insan-insan yang awalnya optimis, setelah diterpa berbagai hal yang melemahkan, akhirnya menjadi seorang pecundang yang tiada arti. Saat-saat kalah seperti ini, diperlukan kelihaian untuk menyiasati kehidupan yang tergambar kurang sempurna tersebut.
Kehidupan diibaratkan sebuah perjalanan yang indah. Ada keceriaan yang mengawali langkah pertama. Lalu keceriaan itu mulai terusik dengan adanya masalah. Diperlukan kepiawaian untuk bisa melewatinya. Analogi sederhana tentang kehidupan adalah hujan. Ya, hujan. Kenapa hujan ? Semua orang saat masih kecil rata-rata pernah menikmati bermain hujan. Sengaja berlari-lari di bawah siraman hujan, bermain sepak bola di bawah guyuran hujan maupun sekedar menikmati sentuhan air yang seperti tertumpah dari langit. Saat masih kecil, bermain hujan adalah sesuatu yang menyenangkan dan jarang yang sakit. Ini dimungkinkan karena pikiran anak-anak masih polos dan belum berpikir kalau hujan bisa membuat sakit. Ada pakar yang mengatakan jika pikiran kita memikirkan sesuatu hal, biasanya lama-lama akan menjadi belief ( keyakinan) yang akhirnya terjadi.
Walau sekedar bermain hujan, namun diperlukan beberapa gerakan seperti maju, mundur, memutar sehingga mempunyai dinamika yang indah. Namun anak-anak harus menyadari jika terlalu lama bermain hujan juga tidak baik sehingga diperlukan kontrol diri yang baik. Memang hujan jika turun sedikit akan membuat banyak hal menggembirakan. Bumi menjadi sejuk , tanaman menjadi subur, tanah menjadi gembur, rumput menghijau dan bungapun bermekaran. Namun jika hujan turun terlalu banyak curahnya dan tidak berhenti-henti maka bisa menghadirkan bencana seperti banjir, tanah longsor dan kerugian lainnya.
Kehidupan juga seperti hujan. Jika percikan kesulitan segera dapat ditanggulangi maka kehidupan akan terus berjalan dengan indah. Namun jika percikan tersebut telah menjadi kobaran kesulitan, maka sangat memungkinkan kehidupan akan menjadi tidak indah lagi. Saat masih bernama percikan kesulitan, maka diperlukan kepintaran ”dance” seperti tarian saat hujan ( tarian identik dengan gerakan maju, mundur, memutar yang harus dinamis dan terpola) atau kemampuan untuk mengatasinya dengan berbagai cara. Jika ”dance” nya tidak berhasil dengan baik atau tidak mahir maka akan muncul masalah yang lebih besar.
Jadi mereka yang mengalami kegagalan ”dance” dengan mulus, maka diperlukan orang-orang yang bisa menjadi sahabat ber sharing. Maka muncullah banyak motivator, therapyst, coach, mentor dan berbagai sebutan lainnya. Ini semua semata-mata untuk membantu mereka yang mengalami permasalahan dalam hidupnya. Sehingga nantinya mereka akan merasakan nikmatnya ”dance in the rain”
Terima kasih
Timoteus Talip
Grup Bisnis Consumer Card | Pendukung Penagihan Cabang
CHASE PLAZA lt.8
Jl. Jend. Sudirman Kav. 21 | Jakarta 12920
Phone : 021-29910700 ext. 39795
Fax : 021-29910712/13
"Menggugah gagasan, merefleksikan pemikiran dan menerobos relung harapan"
DISCLAIMER:
Pikirkan kelestarian lingkungan sebelum mencetak email ini.
Perhatian: Email ini (termasuk lampirannya) hanya ditujukan kepada penerima email yang tercantum di atas dan tidak boleh disalahgunakan oleh siapa pun. Jika Anda bukan penerima email yang dimaksud, Anda tidak diperkenankan mem-forward, mendistribusikan, menyebarkan, meminjamkan, mencetak, menggandakan, atau memanfaatkan email ini.
Selasa, 12 Juli 2016
Diposting oleh
Talip's Blog
Yuk Belajar dari Mantan Preman.
Jika Anda mendengar kata "preman" , apa yang terlintas dalam benak Anda ? Ya, orang yang suka berkelahi, orang yang hidupnya dekat dengan kekerasan dan berbagai hal negatif lainnya. Itu tidak salah. Tapi pernahkan Anda mencari tahu kenapa seseorang menjadi preman ?
Nah, jika saat ini Anda mengenal Tommy Wong, pemilik beberapa Authorized Samsung Store & Outlet Acc resmi dengan nama Victorindo Group di Ibukota.
Apa kesan Anda ?. Pengusaha muda, sukses dan berjiwa sosial tinggi. Tapi jika saya katakan Tommy Wong adalah mantan preman , apakah Anda percaya ? Ya, Tommy Wong yang sejak usia 8 tahun telah ditinggal almarhum Ayah untuk selama-lamanya. Dia harus hidup menderita dengan mama dan adiknya. Akibat teror psikis sang ibu harus menjalani pengobatan dan adik dirawat oleh keluarga di daerah lain.
Hidup sendiri di kota, Tommy kecil tanpa asuhan dan didikan keluarga membuat dia harus bertahan hidup di jalanan, bekerja keras untuk bisa makan. Kerasnya kehidupan di jalanan membuat ia akrab dengan kekerasan. Berkelahi dengan sesama preman itu hal yang umum. Muka berdarah-darah menjadi pemandangan biasa. Di satu titik ia menyadari kehidupan seperti itu tidak akan membawa ia sukses. Maka mulailah ia melamar bekerja tapi ditolak dimana-mana. Berbagai profesi dijalani sampai akhirnya bekerja disebuah toko Handphone.
Tapi kerusuhan membuat tempat kerjanya tutup dan mulai dari sisa gaji ia coba buka toko kecil dan usaha sendiri .
Dengan kreatifitasnya ia membuat dummy handphone dari gabus. Ternyata responnya bagus dari customer. Berkat kerajinannya, akhirnya mendapatkan kepercayaan salah satu brand yang baru memulai saat itu, akhirnya brand tersebut sangat terkenal saat ini. Ya Anda benar SAMSUNG. Berkat ketekunan selama 16 tahun ia bisa sukses meraih berbagai penghargaan prestisius dan memiliki beberapa Authorized Store dan Outlet. Memang ada harga mahal pengorbanan yang harus dibayar dalam meraih kesuksesan. Walau sekarang ia sukses , tidak melupakan teman teman juga anak-anak asuhnya yang kurang beruntung.
Tommy membantu beberapa panti asuhan dan mempersiapkan sebuah panti pembinaan yatim piatu dan dengan rutin terus menyalurkan berkat untuk anak-anak asuhnya. Sebuah hal yang menarik dan luar biasa.
Nah pertanyaannya, apakah motivasi itu harus dari motivator-motivator top ? Gak perlu juga kan. Seorang mantan preman bisa memberi motivasi bagi Anda semua. Jika Anda sukses janganlah sombong, ingat kesuksesan itu hanyalah titipan Tuhan. Ingatlah selalu berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Tommy ingat dirinya anak yatim dan sekarang mendirikan panti asuhan agar anak-anak asuhnya bisa sukses seperti dirinya. Siap belajar dari mantan preman ? Ayukkk
DISCLAIMER:
Pikirkan kelestarian lingkungan sebelum mencetak email ini.
Perhatian: Email ini (termasuk lampirannya) hanya ditujukan kepada penerima email yang tercantum di atas dan tidak boleh disalahgunakan oleh siapa pun. Jika Anda bukan penerima email yang dimaksud, Anda tidak diperkenankan mem-forward, mendistribusikan, menyebarkan, meminjamkan, mencetak, menggandakan, atau memanfaatkan email ini.
RSS FEED
TWITTER