Translate to : English French German Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

101010 atau Triple 10

Minggu, 10 Oktober 2010

Minggu 10 Oktober 2010 atau jika disingkat 101010 alias triple 10. Hari minggu ini sebenarnya sama dengan hari minggu lainnya. Tapi berhubung angkanya menarik maka saya tergelitik untuk menuangkannya menjadi sebuah tulisan.
Memang peristiwa 3 angka kembar langka terjadi apalagi angkanya sangat menarik yaitu 10. Angka 10 sejak dulu diartikan angka sempurna. Saat kita sekolah maka cita-cita kita pasti mendapat angka 10 untuk setiap pelajaran walaupun kenyataannya sering mendapat discount 50%. Jika kita bermain-main dengan angka 10 maka banyak yang bisa didefinisikan dengan angka 10. Coba hitung jumlah jaari tangan Anda, 10 kan. Lalu jumlah jari kaki Anda, masih 10 ?. Untuk Agama tertentu dikenal dengan istilah 10 perintah Allah. 10 merupakan angka pertama yang terdiri dari 2 digit. Saat kecil ada lagu ( saya lupa judul pastinya) tek kotek kotek kotek anak ayam turun 10. Anda makan di restoran juga kena pajak 10%. Ada lomba lari Jakarta 10 km. Mata uang Indonesia yang mempunyai dua macam warna berbeda dan ke duanya masih berlaku adalah 10 ribu. Ada juga majalah anak-anak Ben 10. Nih yang penting royalti penulis buku juga 10% dari harga nilai buku. Jumlah pemain sepak bola pada kesebuah kesebelasan yang salah satu pemainnya diusir wasit 10 kan ( ini sih pemaksaan)
Ya masih banyak keunikan angka 10.
Sekarang apa hubungannya angka 10 dengan dunia kerja? Setiap orang di dalam pekerjaannya tentu mempunyai target . Target sering diibaratkan angka 10, maka kita semua harus berusaha mencapai angka 10, bahkan kalau bisa melebihinya. Butuh kerja keras, komtimen, kerjasama dan kontribusi untuk mewujudkannya. Saya tertarik dengan kata "kontribusi". Jika di dalam pekerjaan setiap orang wajib memberikan kontribusinya agar kehadiran maupun karyanya dirasakan oleh perusahaan. Kontribusi bisa juga dilakukan di luar lingkup perusahaan, tapi tetap membawa banyak makna untuk kepentingan orang banyak seperti menjadi pengurus Serikat Pekerja, mengelola Majalah Internal, menjadi panitia di berbagai kegiatan kantor atau menjadi instruktur. Sudah banyakkah kontribusi Anda untuk kemajuan perusahaan ?

Kurang Tantangan Menghambat Prestasi

Jumat, 08 Oktober 2010

Seorang teman pembaca setia blog saya bertanya kenapa akhir-akhir ini saya jarang menginformasikan artikel di blog saya. Dia selalu menanti artikel-artikel tersebut. Ya memang saya akui beberapa hari terakhir ini saya agak malas menulis di blog. Kenapa ? Salah satu penyebab utama adalah kurangnya tantangan. Jika pembaca ingat cita-citas saya menjadi karyawan BCA teraktif menulis di blog (tapi bukan hasil copas.... itu sih malu-maluin ya) maka kelihatannya hal itu sudah terlampaui. Sampai hari ini saya belum menemukan karyawan BCA yang seaktif saya menulis di blog. Maka saya merasa kurang tantangan dengan tidak adanya sparring partner yang seimbang. Bayangkan jika saya mempunyai sparring partner atau "lawan" yang seimbang maka saya akan terus tertantang untuk menulis di blog. Sama seperti saat saya bermain pingpong setiap Sabtu pagi di Senayan. Kenapa saya mau bercapek-capek di saat libur? Karena di Senayan, saya menemukan sparring partner yang jauh lebih hebat dari saya. Ada juara BCA, ada pelatih yang sangat jago. Jika di Senayan para pemain pingpong lebih rendah ilmunya dari saya, mungkin saya akan malas berlatih. Dengan sparring partner yang jago maka perlahan tapi pasti permainan pingpong saya akan meningkat. Maka dalam kehidupan ini jika Anda kurang mendapat tantangan mungkin akan menghambat prestasi. Misalnya bekerja tidak ada target, maka pasti tidak akan maksimal. Jadi Anda harus terus mencari sparring partner yang tangguh agar Anda smakin teruji di segala hal.
Jadi tolong carikan saya sparring partner yang tangguh dalam menulis blog agar saya semakin semangat menulis.

FW: Salah Jalan.... Berbahaya

Kamis, 07 Oktober 2010

 
 
Senin sore 27 September 2010 hujan deras mengguyur Jakarta. Seperti biasa jalanan macet dimana-mana. Jam 17.25 saya pulang, tentu saja dengan team 3 in 1, melalui jalan Sudirman yang begitu macet. Jarak dari Menara BCA sampai Kampus Atmajaya yang biasanya hanya 20 menit, terpaksa saya tempuh selama 50 menit. Saking stres dan kesal, maka saya kurang konsentrasi. Seharusnya saya mengikuti jalan memutar jembatan Semanggi untuk masuk pintu tol Senayan. Tapi saya salah belok sehingga masuk ke Jalan Gatot Subroto yang macet total. Mobil tidak bisa berbalik dan terpaksa saya mengikuti jalur yang pamer paha ( padat merayap tanpa harapan). Mau marah, kesal, menyesal, juga tidak bisa menolong. Akhirnya setelah merayap selama 1 jam, saya bisa memutar balik dan masuk jalan tol Semanggi. Walaupun di jalan tol, yang namanya macet terus saja menemaniku. Setelah berjuang selama 3 jam 15 menit akhirnya penderitaan saya berakhir. 
Dalam kehidupan kita, kadangkala kita juga salah melangkah atau salah mengambil jalan. Mungkin Anda ingat saat kuliah, jurusan apa yang Anda ambil? Apakah setelah lulus kuliah, ilmu tersebut Anda pergunakan di pekerjaan? Ada seorang teman yang lulusan Fakultas Arsitek Universitas Tarumanagara tapi bekerja di bank. Memang kesannya salah jalan, tapi masih bisa diterima. Namun ada kalanya salah langkah yang berakibat fatal, misalnya salah mengambil keputusan penting di dalam pekerjaan. Salah memprediksi target penjualan, salah memperhitungkan biaya sehingga akhirnya merugikan perusahaan. Mungkin pula Anda seorang introvert dan pendiam tetapi disuruh melakukan pekerjaan pemasaran. Itu semua dapat dikategorikan salah jalan. Jika Anda telah salah jalan maka akan sulit untuk kembali. Perlu perjuangan yang berat dan mungkin lama. Jadi berhati-hatilah dalam mengambil keputusan agar Anda tidak salah langkah.
Teringat akan cerita seorang teman yang mengatakan dia mohon doanya agar tidak salah memilih pasangan hidup. Karena jika sudah memilih, apapun resikonya harus ditanggung dan tidak bisa tukar tambah.
Saya yakin Anda tidak ingin salah jalan atau salah melangkah kan ?
 


:BCA:

Aku Pasti Bisa

Minggu, 03 Oktober 2010

Saya baru saja selesai membaca buku dengan judul "Aku Pasti Bisa" karya Vivi Silvia. Buku true story yang mencertiakan sorang laki-laki bernama Aceng yang lahir tanpa ke dua tangan. Namun Aceng berhasil mengatasi kekurangannya bahkan bisa melakukan banyak kegiatan dengan kakinya seperti menyetir mobil, bermain gitar dan masih banyak lagi. Penasaran? Silakan beli bukunya. Saya tidak ingin bercerita banyak tentang kisah Aceng, namun ada satu hal yang ingin saya sharingkan yaitu kemauan untuk maju. Sebagai orang yang beruntung dilahirkan dengan fisik lengkap, mempunyai pekerjaan yang baik, namun ada kalanya kita berkeluh kesah tentang kehidupan ini. Jika jalanan macet, maka kita sering kesal dan marah, tapi tahukan Anda masih banyak saudara kita dipedalaman yang harus berjalan kaki berjam-jam. Sering kali kita tidak puas dengan pekerjaan dan gaji kita, tapi tahukah Anda masih banyak penggangguran di sekeliling kita?. Menurut saya sudah selayaknya kita mensyukuri apa yang telah diperoleh dan tidak berkeluh kesah. Saya sendiri mensyukuri apa yang telah saya peroleh sebagai penulis buku. Saya memberikan seluruh royalti untuk mereka yang kekurangan.
Aku pasti bisa, itu sebuah selogan yang sangat luar biasa dan bisa memacu kita untuk lebih maju. Tapi jika slogan hanya diucapkan saja, tanpa ada tindakan nyata maka slogan tetaplah hanya sebuah kata indah belaka. Jadi mulai sekarang mari kita terus berusaha meningkatkan kinerja kita, kejar prestasi dan yakinlah jika semua tantangan pasti ada peluang yang membahagiakan. Ya, Aku pasti bisa untuk menulis buku ke tiga dan seterusnya.

Nilai Tawar yang Harus Dimiliki

Jumat, 01 Oktober 2010

 

Akhir-akhir ini saya senang berbicara mengenai nilai tawar kepada teman-teman. Nilai tawar adalah nilai kita dibandingkan terhadap orang lain. Jika nilai tawar kita lebih tinggi maka kita akan menang selangkah. Namun ada kalanya seharusnya nilai tawar kita yang lebih besar dari orang lain, tapi kenyataannya malah terbalik. Contoh sederhana saya alami saat pulang kerja. Untuk menghadapi 3 in 1 maka saya mengajak 2 orang teman kantor  untuk ikut mobil saya sebagai joki “eksklusif”. Masalahnya jika 2 orang teman tersebut masih ada pekerjaan yang belum selesai, maka saya harus menunggunya. Padahal  saya yang mempunyai mobil. Dari cerita tersebut nilai tawar 2 orang teman lebih tinggi dari saya. Saya yang membutuhkan mereka sehingga saya yang harus mengalah. Bagaimana caranya saya meningkatkan nilai tawar agar jika mereka belum selesai, saya tidak harus menunggu. Ada 3 cara yang bisa saya lakukan:

1.Menggunakan jasa joki.  Resikonya harus membayar, mobil menjadi agak kotor, kemungkinan terjadi pencurian bisa terjadi dan kemungkinan ditilang polisi saat menurunkan joki di pintu tol.

2. Melalui jalan tikus atau jalan alternatif untuk menghindari 3 in 1. Resikonya macet dan banyak kendala karena jalan relatif sempit.

3. Pulang di atas jam 19.00. Resikonya agak macet karena banyak orang yang pulang jam 19.00 dan tiba di rumah juga semakin malam.

Memang menaikkan nilai tawar tidaklah mudah karena banyak rintangan yang harus di terima. Tapi jika kita serius mengerjakannya maka sedikit demi sedikit nilai tawar kita akan bertambah.  Contoh lain adalah tentang sebuah agency yang berhasil mengerjakan majalah internal sebuah Bank Besar. Saat itu nilai tawarnya masih rendah sehingga “agak mudah diatur”. Setelah mengerjakan majalah internal Bank Besar, agency tersebut melakukan penawaran proposal ke berbagai perusahaan dengan membawa referensi dan  majalah internal tersebut sebagai bukti. Akhirnya beberapa perusahaan menggunakan jasa agency tersebut karena nilai tawarnya meningkat setelah mengerjakan majalah internal Bank Besar.

Saya sendiri mencoba membuat nilai tawar lebih baik dengan aktif menulis di blog, menulis di majalah internal perusahaan, menulis artikel  di datahrd, menjadi instruktur  di training center  dan berbagai kegiatan positif lainnya .

Bagaimana dengan Anda ? Coba renungkan dan pikirkan apa saja nilai tawar yang bisa Anda tingkatkan agar kesuksesan menghampiri Anda. 


:BCA:

Menggugah gagasan, merefleksikan pemikiran dan menerobos relung harapan